Kita mahluk Allah swt berasal dari tanah dan kembali ke tanah. Pada pagi hari sabtu tanggal 14 Juli 2007 telah berpulang salah satu dari orang tua yang ‘dituakan’ atau ‘sesepuh’masyarakat Indonesia di Melbourne, Bapak Effendi Zein. Di akhir hidup beliau aktif menerjemahkan tulisan-tulisan dari bahasa Belanda ke bahasa Indonesia. Banyak pengalaman-pengalaman lainnya yang tak terlupakan dengan Almarhum.

Ada satu pengalaman yang tak terlupakan yaitu waktu ditanyakan tentang suatu hal yang selalu dialami dan menjadi pertanyaan bagi orang Indonesia yang datang ke Australia atau ke negera ke 2 lainnya setelah usia lanjut, yaitu pertanyaan; ‘mau meninggal di mana atau nanti kalau sudah pensiun mau tinggal di mana?’ Jawaban beliau waktu ditanyakan pertanyaan diatas: “Terserah kepada Yang di Atas’ sambil menggerakkan jari-telunjuk keatas dengan ekspresi yang mengatakan ‘kita manusia tidak bisa berbuat apa-apa kalau sudah sampai ke hal-hal yang ‘di dalam kekuasaan dan daerah demarkasi Ilahi, kita hanya mengikuti apa yang sudah ditentukanNya.’ Kita manusia hanya menjalaninya!


Pengalaman yang lain adalah ‘ketelitian’ beliau. Apapun yang terjadi selalu dicatat. Dalam usia 85 tahunpun daya ingatan masih sangat kuat. Yang diingat biasanya nama orang-tua dan kebetulan beliau kenal dengan orang tua penulis, ‘Oh Halim ya?’ atau, ‘Oh Alimin ya?’ Kebetulan kami berasal dari kota yang sama di Payakumbuh,Sumatera Barat. Beliau juga dikenal sebagai ‘penyembuh’ berbagai penyakit, dengan beberapa kali urutan atau sentuhan bisa baik tetapi selalu dengan ucapan, ‘hanya dengan izin Allah swt semata.’

Ada satu hal lagi yang sangat mengagumkan dan membuat kita yang relatif masih muda dibangdingkan dengan Beliau adalah, dalam usia yang sudah 85 tahun masih mampu menarik ‘sepenuhnya’ chest expander dengan 5 springs. Penulis sempat nyeletuk dalam hati: “Hebat, dapat tenaga dari mana ya?” Pada waktu memandikan sempat salah seorang dari kami berbisik: “Pendekar sudah pergi!”

Tetapi beliau lebih dikenal sebagai guru pencak silat dengan nama ‘Silat Pencak Bela.’ Pada waktu pemakaman banyak dari beliau yang datang bahkan dari Perth. Keberhasilan seorang guru atau apakah seorang guru berhasil sebagai seorang guru diukur dari apakah ‘masih ada mantan murid yang kalau ketemu di jalan menegur atau kirim surat/email setelah pensiun dari ruang kelas?’ Apalagi kalau datang dari ribuan kilometer, itu menandakan beliau berhasil semasa hidupnya sebagai seorang pengajar atau guru. Disamping dari sekian banyak murid juga ada teman seperjuangan, Pak Slamet yang juga ‘sesepuh masyarakat Indonesia di Melbourne.

Terakhir juga beliau dikenal sebagai pembaca buku yang rajin dengan koleksi buku yang luas diantaranya, ‘Fundamentals of Islamic Thought’ – Murtaza Mutahhari; ‘Max Havelaar(bhs Belanda)’ – Multatuli; ‘The Revolution of Hope’-Erich Fromm;

‘Fasting Can Save Your Life’- Herbert M. Shelton; ‘The Progress and Arrest of Islam in Sumatera’ Gottfried Simon & Holy Quran’ – Yusuf Ali (1977).

Beberapa dari koleksi buku beliau disumbangkan untuk menambah koleksi Perpustakaan Mesjid Westall. Insya Allah beliau terus mendapat pahala dari buku-buku yang disumbangkan kepada masyarakat Indoneia di Westall. Terima kasih Bapak Effendi!